AS Akan Kekurangan Dana Pengendalian COVID-19 pada Mei 2022

AS Akan Kekurangan Dana Pengendalian COVID-19 pada Mei 2022


Amerika Serikat (AS) terancam kekurangan dana yang dibutuhkan untuk bayar program pengendalian COVID-19. Program ini meliputi kegiatan test, perawatan, dan vaksinasi. "Kita harus jamin ada suplai tambahan saat ini," kata Presiden Joe Biden saat menyampaikan pidato saat sebelum diberi suntikan booster ke-2 nya di hari Rabu (31/3/2022).

"Kita tidak dapat menanti sampai kita tertekan keadaan saat sebelum berlaga. Itu terlampau telat," ikat ia. Media NPR menyampaikan dua minggu lalu jika dana untuk program itu diprediksikan oleh Gedung Putih akan habis Mei kedepan. Awalnya bulan ini (10/3/2022), Konferensi AS menampik saran yang hendak menambah USD 22.5 miliar untuk dana program Covid-19.

Pembicaraan dan perundingan di antara Partai Demokrat dan Partai Republikan untuk menuntaskan permasalahan bujet ini akan berjalan satu minggu ke depan.

Konferensi tidak percaya jika dana yang sudah diberi awalnya sudah dipakai dengan efisien. Anggota-anggota Konferensi dari Partai Republika menekan supaya selekasnya diberi keterangan detil hal pemakaian dana itu.

Bukan hanya itu, mereka cemas tidak bisa bayar dana yang sejauh ini sudah digunakan. Selama ini, Konferensi AS sudah cairkan minimal USD 6 triliun untuk mengatasi penebaran COVID-19. Uang ini, meskipun punya AS sendiri, secara tehnis sudah dipinjamkan dari dana masa datang, yang harus tetap dibayarkan untuk pastikan tidak ada kritis moneter yang mengincar.
Wakil Koordinator COVID-19 Gedung Putih Natalie Quillian menjelaskan Konferensi harus ingat jika ada peluang untuk beberapa varian COVID-19 baru yang dapat menebar di masa datang. Bila dana yang disuruh itu tidak dicairkan, karena itu AS harus siap untuk hadapi kritis.

"Apa yang kami meminta ialah sebuah investasi simpel, supaya perkembangan yang sejauh ini sudah diraih tidak lenyap percuma," sebut Quillian ke NPR.

Kolumnis dan penulis buletin masih tetap New York Times, David Leonhardt, menulis pada Kamis (31/3/2022) minimnya bujet dari Konferensi sebagai permasalahan yang besar. Tetapi, disamping itu, Leonhart menerangkan jika sikap warga AS dalam hadapi wabah ikut jadi factor yang hendak menambah persoalan.

Ini karena keinginan untuk vaksin di AS yang tidak capai sasaran. Entahlah karena ideologi politik, tidak percaya pada pengetahuan sains, atau konsep individu, sekitaran seperempat dari komunitas AS menampik untuk divaksinasi. Walau sebenarnya, Negeri Paman Sam mempunyai stock vaksin yang banyak.

Dari mereka yang sudah divaksinasi, seperempat kembali tidak disuntik booster. Banyak yang ketidaktahuan akan keutamaan suntikan booster, dan berasa telah aman karena sudah divaksinasi.

"Sekalinya Konferensi memberi bujet COVID-19 tambahan, negara ini tetap bertemu dengan permasalahan. Permasalahan yang cuman bisa dituntaskan dengan info dan persuasi, bukan dollar," catat Leonhardt.
© gracetzy. All rights reserved. Distributed by Pixabin